welcome


web widgets

Minggu, 08 Desember 2013

Cerpen : Dibalik keikhlasan



Dibalik Keikhlasan
cinta adalah kata sederhana yang penuh makna itulah yang sering terdengar dikalangan anak muda,tapi tidak denganku karena bagiku cinta hanyalah sebuah cerita semata dan tidak pernah ada dikehidupan yang nyata.salma begitulah aku dipanggil.
ketika mentari menyapa kutapaki langkah-langkah kehidupan tanpa percaya adanya cinta,tapi pandanganku berubah ketika aku bertemu kak sofa,penampilanya sederhana tapi dya punya kharisma yang khas jadi ngak heran kalau banyak cewek yang suka sama dya,tingkah lakunya yang santun membuat aku tidak bisa menolak pesonanya dan diam-diam aku menaruh hati padanya,karna dya yang membuat aku sadar bahwa cinta itu nyata.
" Dek salma darimana?" tanya kak sofa ketika melihatku lewat didepan rumahya..."dari warung depan kak"jawabku singkat dan berharap kak sofa akan bertanya lagi.."beli apa dek?"tanya kak sofa kembali..."beli gula kak disuruh sama ibu"jawabku menjelaskan .."Duh dek salma ternyata anak penurut ya"..puji kak sofa ..."ah kakak bisa saja"..jawabku tersipu malu.."duluan ya kak soalnya gulanya ditungguin ibu"ungkapku mengakhiri percakapanku dengan kak sofa yang sebenarnya tak ingin ku akhiri tapi takutnya kalau lama-lama nanti aku bisa salah tingkah..
kak sofa adalah tetangga baruku ,dia masih kuliah diUGM jurusan komunikasi ,jadi tidak heran kalau dia mudah bergaul dengan lingkungan barunya,selain dia kuliah dia juga bekerja disebuah kantor swata.lengkaplah dia sebagai cowok yang sempurna.sifat mandirinya yang inginku jadikan teladan agar tidak selalu bergantung dengan orang tua,mungkin ini adalah waktu yang tepat karena sebentar lagi aku akan meninggalkan masa SMA yang penuh suka cita berganti dengan perguruan tinggi yang menuntutku jauh lebih dewasa dan bertanggungjawab.
setelah masa orientasi kampus berakhir akupun mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan seperti yang sudah aku rencanakan sebelumnya,akupun menyebarkan  banyak surat lamaran berhubung pendidikan terakhirku adalah SMA, maka aku hanya diterima menjadi admin diklinik deket rumah tapi itu bukan masalah kujadikan ini sebagai langkah awal menuju kemandirianku.
tak terasa waktu begitu cepat berlalu akupun sudah semester 5 dan kak sofa kemarin baru saja wisuda,kedekatanku dengan kak sofa sudah semakin dekat yang dulunya hanya sebatas ngobrol biasa sekarang aku bebas ngobrol apa saja dan bahkan bisa keluar masuk rumahnya dengan bebas begitu pula kak sofa yang sudah dinggap keluarga dirumahku,angankupun sering melayang bebas bersama kak sofa dan berharap semua akan menjadi nyata.
sore itu tanpa ku duga kak sofa datang kerumahku bersama seorang gadis berkerudung yang terlihat cantik dengan baju dres yang anggun,kak sofa membawa undangan yang aku kira adalah undangan perpisahan dengan warga kampung karena dia akan kembali kekampungnya disolo tapi ternyata undangan itu adalah undangan pernikahanya dengan gadis yang bersamanya,mendengar itu hatiku seperti tersambar petir rasanya langsung  lemas mendengar kenyataan itu,ternyata kak sofa selama ini hanya menganggapku sebagai adiknya dan tak pernah lebih dari itu,selama ini kak sofa sudah mengkhitbah gadis itu hanya tidak pernah bertemu satu sama lain karena mereka menjalin hubungan sesuai syariat islam.
sejak saat itu hatiku hancur,hingga aku tidak tahu harus bagaimana? aku benar-benar bingung..sampai rasanya kehidupanku ini berhenti,semangatku hilang hingga aku jarang masuk kerja apalagi kuliah, aku hanya menangis meratapi keadaan. Bel rumahku berbunyi membangunkanku dari lamunanku,ketika aku membuka pintu aku melihat seorang perempuan yang duduk dikursi roda yang membawa baju pesanan ibu,setelah aku persilahkan masuk akupun  bertanya banyak tentang kehidupanya, diapun menceritakan banyak hal yang telah dialaminya hingga dia bisa seperti sekarang yang sudah mempunyai usaha tailor dan pekerjanya semua adalah orang-orang seperti dirinya yang kurang sempurna. sejak itu pikiranku berubah kalau orang yang yang tidak sempurna saja  bisa bangkit dari keterpurukanya dan bisa sukses , bagaimana denganku yang sempurna harusnya bisa jauh lebih sukses darinya,aku sadar meratapi kesedihan hanya akan buat aku kehilangan waktuku untuk merajut asaku..
kini aku telah lulus menjadi sarjana dan telah melupakan kak sofa dengan mengambil khikmahnya bahwa aku harus lebih intropeksi diri dengan cara menjadi lebih baik dan menata kembali diriku agar mendapatkan jodoh yang baik pula,akupun memutuskan untuk memakai hijab karena aku merasa sudah saatnya aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslimah, sedikit demi sedikit akupun mulai memahami islam yang sebenarnya dan mulai mengubah sifat-sifat burukku serta selalu berdoa kepada allah agar mendapat jodoh yang baik dan mengikhlaskan semua yang sudah terjadi..akupun mencoba membuka hatiku dan beberapa kali dekat dengan lelaki tapi belum mendapatkan yang sesuai denganku..
tidak aku sangka pada hari jumat pagi ada seorang yang datang kerumah dan bermaksud mengkhitbahku sebelum ayahku menjawabnya beliau meminta persetujuanku akupun berpikiir mungkin ini jawaban atas doa-doaku selama ini,beliaupun menceritakan bahwa lelaki yang ingin mengkhitbahku ini sudah pernah menikah sebelumya,aku tidak begitu perduli dengan statusnya karena itu bukan jaminan untuk kelangengan pernikahan, beliau juga mengatakan bahwa beliau kenal baik dengannya dan merestui jika aku menginyakannya, setelah berbagai pertimbangan akupun menerima khitbahan lelaki itu.
semua acarapun dipersiapkan untuk menuju hari yang kunanti selama ini. saat hari itupun tiba serangkaian acarapun telah berjalan dengan lancar,tingal akad nikah yang sebentar lagi akan dilangsungkan, siapapun yang akan menjadi suamiku nanti dan bagaimanapun keadaannya aku akan terima,kata ayah calonku bekerja disalah satu kantor swasta dijakarta semuanya harus kusyukuri karena diusiaku yang sudah 27 tahun aku tidak ingin menundanya karena menikah adalah wajib bagi yang sudah mampu dan sunnah rosul.
akadpun telah selesai dilakukan hatiku berdebar-debar karena sebentar lagi aku akan bertemu dengan suamiku,rasanya campur aduk antara senang dan takut kalau dia tidak bisa menerima kekuranganku dan takut kalau dia tampak begitu tua untuk menjadi suamiku,tapi aku tidak boleh menyesali atas apa yang telah menjadi keputusanku sendiri. menjalankan hubungan sesuai syariat islam membuatku hanya bisa menunggu didalam kamar sampai akad nikah selesai dan menunggunya menghampiriku. suara pintupun terbuka " assalamualaikum,ucapnya.." waaliakum salam,jawabku . jantungku seolah berhenti saat aku melihat wajahnya dan tak terasa air mataku menetes  ternyata suamiku tidak lain adalah lelaki yang dulu pernah aku cintai yaitu kak sofa akupun dipeluknya betapa bersyukurnya aku atas rahmat allah yang begitu besar ini,diapun menceritakan semua yang terjadi bahwa istrinya telah meninggal karena sakit kanker dan diapun mendengar ketidakberdayaanku ketika ditinggal dia menikah dengan gadis lain dan memutuskan untuk memperbaiki hatiku yang hancur karenanya..
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar