Dibalik
Keikhlasan
cinta adalah kata sederhana yang penuh makna itulah yang sering
terdengar dikalangan anak muda,tapi tidak denganku karena bagiku cinta hanyalah
sebuah cerita semata dan tidak pernah ada dikehidupan yang nyata.salma
begitulah aku dipanggil.
ketika mentari menyapa kutapaki langkah-langkah kehidupan tanpa percaya
adanya cinta,tapi pandanganku berubah ketika aku bertemu kak sofa,penampilanya
sederhana tapi dya punya kharisma yang khas jadi ngak heran kalau banyak cewek
yang suka sama dya,tingkah lakunya yang santun membuat aku tidak bisa menolak
pesonanya dan diam-diam aku menaruh hati padanya,karna dya yang membuat aku
sadar bahwa cinta itu nyata.
" Dek salma darimana?" tanya kak sofa ketika melihatku lewat
didepan rumahya..."dari warung depan kak"jawabku singkat dan berharap
kak sofa akan bertanya lagi.."beli apa dek?"tanya kak sofa kembali..."beli
gula kak disuruh sama ibu"jawabku menjelaskan .."Duh dek salma
ternyata anak penurut ya"..puji kak sofa ..."ah kakak bisa saja"..jawabku
tersipu malu.."duluan ya kak soalnya gulanya ditungguin ibu"ungkapku
mengakhiri percakapanku dengan kak sofa yang sebenarnya tak ingin ku akhiri
tapi takutnya kalau lama-lama nanti aku bisa salah tingkah..
kak sofa adalah tetangga baruku ,dia masih kuliah diUGM jurusan komunikasi
,jadi tidak heran kalau dia mudah bergaul dengan lingkungan barunya,selain dia
kuliah dia juga bekerja disebuah kantor swata.lengkaplah dia sebagai cowok yang
sempurna.sifat mandirinya yang inginku jadikan teladan agar tidak selalu
bergantung dengan orang tua,mungkin ini adalah waktu yang tepat karena sebentar
lagi aku akan meninggalkan masa SMA yang penuh suka cita berganti dengan
perguruan tinggi yang menuntutku jauh lebih dewasa dan bertanggungjawab.
setelah masa orientasi kampus berakhir akupun mempersiapkan diri untuk
mencari pekerjaan seperti yang sudah aku rencanakan sebelumnya,akupun
menyebarkan banyak surat lamaran
berhubung pendidikan terakhirku adalah SMA, maka aku hanya diterima menjadi
admin diklinik deket rumah tapi itu bukan masalah kujadikan ini sebagai langkah
awal menuju kemandirianku.
tak terasa waktu begitu cepat berlalu akupun sudah semester 5 dan kak
sofa kemarin baru saja wisuda,kedekatanku dengan kak sofa sudah semakin dekat
yang dulunya hanya sebatas ngobrol biasa sekarang aku bebas ngobrol apa saja
dan bahkan bisa keluar masuk rumahnya dengan bebas begitu pula kak sofa yang
sudah dinggap keluarga dirumahku,angankupun sering melayang bebas bersama kak
sofa dan berharap semua akan menjadi nyata.
sore itu tanpa ku duga kak sofa datang kerumahku bersama seorang gadis
berkerudung yang terlihat cantik dengan baju dres yang anggun,kak sofa membawa
undangan yang aku kira adalah undangan perpisahan dengan warga kampung karena
dia akan kembali kekampungnya disolo tapi ternyata undangan itu adalah undangan
pernikahanya dengan gadis yang bersamanya,mendengar itu hatiku seperti
tersambar petir rasanya langsung lemas
mendengar kenyataan itu,ternyata kak sofa selama ini hanya menganggapku sebagai
adiknya dan tak pernah lebih dari itu,selama ini kak sofa sudah mengkhitbah
gadis itu hanya tidak pernah bertemu satu sama lain karena mereka menjalin
hubungan sesuai syariat islam.
sejak saat itu hatiku hancur,hingga aku tidak tahu harus bagaimana? aku
benar-benar bingung..sampai rasanya kehidupanku ini berhenti,semangatku hilang
hingga aku jarang masuk kerja apalagi kuliah, aku hanya menangis meratapi
keadaan. Bel rumahku berbunyi membangunkanku dari lamunanku,ketika aku membuka
pintu aku melihat seorang perempuan yang duduk dikursi roda yang membawa baju
pesanan ibu,setelah aku persilahkan masuk akupun bertanya banyak tentang kehidupanya, diapun
menceritakan banyak hal yang telah dialaminya hingga dia bisa seperti sekarang
yang sudah mempunyai usaha tailor dan pekerjanya semua adalah orang-orang
seperti dirinya yang kurang sempurna. sejak itu pikiranku berubah kalau orang yang
yang tidak sempurna saja bisa bangkit
dari keterpurukanya dan bisa sukses , bagaimana denganku yang sempurna harusnya
bisa jauh lebih sukses darinya,aku sadar meratapi kesedihan hanya akan buat aku
kehilangan waktuku untuk merajut asaku..
kini aku telah lulus menjadi sarjana dan telah melupakan kak sofa dengan
mengambil khikmahnya bahwa aku harus lebih intropeksi diri dengan cara menjadi
lebih baik dan menata kembali diriku agar mendapatkan jodoh yang baik
pula,akupun memutuskan untuk memakai hijab karena aku merasa sudah saatnya aku
menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslimah, sedikit demi sedikit akupun
mulai memahami islam yang sebenarnya dan mulai mengubah sifat-sifat burukku
serta selalu berdoa kepada allah agar mendapat jodoh yang baik dan
mengikhlaskan semua yang sudah terjadi..akupun mencoba membuka hatiku dan
beberapa kali dekat dengan lelaki tapi belum mendapatkan yang sesuai denganku..
tidak aku sangka pada hari jumat pagi ada seorang yang datang kerumah dan
bermaksud mengkhitbahku sebelum ayahku menjawabnya beliau meminta persetujuanku
akupun berpikiir mungkin ini jawaban atas doa-doaku selama ini,beliaupun
menceritakan bahwa lelaki yang ingin mengkhitbahku ini sudah pernah menikah
sebelumya,aku tidak begitu perduli dengan statusnya karena itu bukan jaminan
untuk kelangengan pernikahan, beliau juga mengatakan bahwa beliau kenal baik
dengannya dan merestui jika aku menginyakannya, setelah berbagai pertimbangan
akupun menerima khitbahan lelaki itu.
semua acarapun dipersiapkan untuk menuju hari yang kunanti selama ini.
saat hari itupun tiba serangkaian acarapun telah berjalan dengan lancar,tingal
akad nikah yang sebentar lagi akan dilangsungkan, siapapun yang akan menjadi
suamiku nanti dan bagaimanapun keadaannya aku akan terima,kata ayah calonku
bekerja disalah satu kantor swasta dijakarta semuanya harus kusyukuri karena
diusiaku yang sudah 27 tahun aku tidak ingin menundanya karena menikah adalah
wajib bagi yang sudah mampu dan sunnah rosul.
akadpun telah selesai dilakukan hatiku berdebar-debar karena sebentar
lagi aku akan bertemu dengan suamiku,rasanya campur aduk antara senang dan
takut kalau dia tidak bisa menerima kekuranganku dan takut kalau dia tampak
begitu tua untuk menjadi suamiku,tapi aku tidak boleh menyesali atas apa yang telah
menjadi keputusanku sendiri. menjalankan hubungan sesuai syariat islam
membuatku hanya bisa menunggu didalam kamar sampai akad nikah selesai dan
menunggunya menghampiriku. suara pintupun terbuka "
assalamualaikum,ucapnya.." waaliakum salam,jawabku . jantungku seolah
berhenti saat aku melihat wajahnya dan tak terasa air mataku menetes ternyata suamiku tidak lain adalah lelaki
yang dulu pernah aku cintai yaitu kak sofa akupun dipeluknya betapa
bersyukurnya aku atas rahmat allah yang begitu besar ini,diapun menceritakan
semua yang terjadi bahwa istrinya telah meninggal karena sakit kanker dan
diapun mendengar ketidakberdayaanku ketika ditinggal dia menikah dengan gadis
lain dan memutuskan untuk memperbaiki hatiku yang hancur karenanya..
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar