welcome


web widgets

Kamis, 11 Juli 2013

CINTA DAN KEPERCAYAAN


CINTA DAN KEPERCAYAAN
Pagi yang sangat cerah untuk memulai sebuah aktifitas manusia, seperti halnya seorang mahasiswa ekonomi, yaitu Zahra. Dia seorang wanita yang cantik, sholeha dan sangat pandai. Banyak lelaki yang terpikat dengan kecantikan dan kepandaiannya tersebut. Kesibukan Zahra dalam dunia pendidikan dan religiusnya, tak terfikirkan olehnya tentang rasa saling tertarik terhadap lain jenis dan tak pernah tau cinta itu apa. Suatu ketika zahra memdapatkan tugas untuk melaksanakan sebuah observasi  di negeri tetangga yaitu Malaysia selama 3 bulan lamanya, dan disinilah awal cerita zahra yang akan mengubah hidupnya.
Siang hari yang cukup cerah d negeri tetangga, Dia sedang duduk di sebuah taman dibelakang kampusnya, tiba-tiba terdengar suara wanita dan lelaki dari jauh memanggil nama Zahra datang menghampirinya
“Hai, Zahra, awak ne kemana saja lah saya cari-cari tak jumpa pula“ sapa si Nafiza teman Zahra dari negeri tetangga dengan suara yang agak keras
“Maaf Nafiza, saya sedang baca buku dari tadi ditaman sebab di kelas bising sekali, so tak tau lah jika Naf, mencari saya” jawab zahra
“Ow, tak apelah, o ya kenalkanlah this is my friend, Edward namanya“ jawab Nafiza sambil memperkenalkan seorang lelaki kepada Zahra
“Hey, perkenalkan nama saya Edward“ sambil menjulurkan tangan kepada Zahra tapi Zahra hanya terdiam tak membalas.
“Maaf, salam kenal“ jawab Zahra sambil menundukkan kepalanya.
“Ye, maaf lah Edward, Zahra tak menerima jabat tangan mu itu, sebab awak bukan muhrim, dia seorang wanita yang soleha, so tak sembaranganlah awak bisa mendekati zahra. Hehe, iya kan Zahra“  jawab Nafiza
Sontak saja edward menjawab kepada zahra “Ow, tak apalah saya mengerti dengan hal itu, maaf kan saya”.
Nafiza tersenyum manis kepada Edward kemudian Edward pun membalas senyuman tersebut.
Beberapa hari kemudian Zahra sedang mengikuti sebuah acara seminar yang di adakan oleh universitas tersebut dan tiba-tiba dia jatuh terpeleset sebab waktu itu sedang turun hujan jadi lantai agaklah licin, semua buku yang di bawanya terjatuh dan berserakan di lantai, tiba-tiba Edward membantunya merapikan buku yang berserakan d lantai tersebut. “Kau tak apa-apa Zahra? Apa awak masih ingat dengan saya?” tanya Edward, “Saya tidak apa-apa terima kasih telah membantu saya dan ya saya masih ingat dengan kamu, kamu teman Nafiza kan? “ jawab Zahra.
Mendengar suara Zahra yang khas Edward merasa sangat senang dan kagum melihatnya, ya karena Edward telah merasa jatuh hati dengannya pada waktu pertama kali mereka bertemu, Edward sering kali bertanya dengan nafiza teman Zahra bagaimana watak dan kepribadian Zahra, Edward diam-diam mencari seluk beluk kehidupan Zahra, namun Edward tak yakin apakah Zahra mempunyai perasaan yang sama denganya sebab Zahra tidak memikirkan hal yang berhubungan dengan percintaan.
Suatu hari Edward mendengar suara yang amat merdu dengan lafal bahasa arab seperti orang yang sedang berdoa, dia penasaran dengan sumber suara tersebut dan ia pun mengikuti suara tersebut hingga berakhir di sebuah ruangan kecil di salah satu kampusnya, dan ternyata adalah suara Zahra yang sedang membaca Al-qur’an, lalu Edward pun mendekati Zahra, “Apa yang sedang awak baca?” tanya Edward penasaran, sontak Zahra kaget mendengar suara Edward yang tiba-tiba saja ada di sampingnya. “Saya sedang membaca al-qur’an, apa kamu tak tau itu al-quran??? “ tanya Zahra dengan heran.
”Maaf saya tidak tau, sebab saya seorang kristian dan hanya pernah memdengar  jika Al-quran adalah kitab orang muslim tapi saya tak tau apa isi kandungan Al-qur’an tersebut.
Zahra lalu minta maaf kepada Edward. Edward tertawa mendengar perkataan Zahra, dalam hati Edward semakin kagum dengan Zahra dan semakin yakin jika dirinya telah jatuh hati dengan Zahra
Suatu ketika tiba-tiba Edward datang ke tempat kos Zahra dan ia mengungkapkan isi hatinya kepada Zahra jika ia telah jatuh hati pada Zahra , namun dia merasa takut jika Zahra akan menolaknya mentah mentah sebab ia tau diri jika mereka sangatlah berbeda, dan mereka tak mungkin bersatu karena mereka berbeda agama, mendengar ungkapan isi hati Edward, Zahra merasa kaget dan bingung untuk menjawab apa dia mempunyai perasaan yang sama kepada Edward. ”Saya tau awak pasti tak mempunyai perasaan yang sama terhadap diri saya,namun berikan saya 1 kesempatan bahwa saya benar-benar jatuh hati dan ingin menjalin hubungan yang serius dengan awak, saya akan turuti apa yg awak pinta kat saya” jawab edward dan langsung pamit pergi.
Setelah Edward pergi, Zahra masih memikirkan kata-kata Edward tadi, zahra tidak menyangka jika Edward menyimpan perasaan yang sama kepadanya, ia merasa bimbang sebab tak boleh jatuh cinta kepada lelaki yang tidak seagama, Edward adalah seorang lelaki yg baik, tampan, cerdas dan bertanggung jawab dalam mnghadapi suatu masalah, namun dia masih bimbang dengan perasaannya dan memang merasa  jatuh hati namun disisi lain berbeda keyakinan dan tak mungkin bersatu, gumamnya dalam hati
Sudah 3 hari Zahra tak terlihat di kampus, Edward sangat khawatir apa karena mengungkapkan isi hatinya ke Zahra, atau zahra marah denagan saya sebab saya sudah mengungkapkan perasaannya ke Zahra ? tanyanya dalam hati. Tiba-tiba Nafiza mengagetkan Edward dalam lamunannya dan memberikan secarik surat. Surat tersebut berisikan jika Zahra telah pulang ke Indonesia, sebab masa tugas observasinya telah habis dan mengungkapkan jika ia  memiliki peraasaan yang sama, namun Zahra tak bisa menerimanya sebab Zahra ingin mempunyai calon yang seiman dan memberikan kesempatan kepada edward untuk pindah agama. Lalu Edward hanya terdiam dan berpikir, bagaimana caranya supaya bisa bersatu, apa mungkin harus pindah agama Islam? gumam Edward. Tiba-tiba Nafiza sontak menjawab”Jika kamu mencintai dia kejarlah sampai dapat namun janganlah mengubah kepercayan demi dia, sebab itu akan sia-sia, dan akan merubah kepercayaan jika kepercayaan itu lebih baik dari sebelumnya”
Sudah beberapa tahun berlalu Zahra telah kembali ke Indonesia. Namun dia masih saja terbayang  dengan kata-kata Edward dan dia selalu melakukan sholat istikhoroh supaya diberikan petunjuk oleh Allah. Suatu ketika Zahra mengunjungi sebuah pengajian yang diadakan oleh kampusnya, ia datang sudah agak terlambat sebab itu ia memperoleh tempat duduk dibelakang dan ia pun tidak terlalu jelas melihat siapa lelaki yang menjadi penceramah pengajian tersebut. Tak lama kemudian pengajian itu selesai. Tiba-tiba Zahra melihat lelaki yang ia kenal. Zahra agaknya mendekati lelaki tersebut dengan penuh rasa penasaran, setelah ia merasa dekat dengan lelaki tersebut sontak saja ia kaget melihat lelaki tersebut dan ternyata ia adalah Edward yang telah berpindah kepercayan menjadi seorang muslim. Edward kini mengganti namanya menjadi Muhammad Nur Zhasman, dan Edward pulalah yang menjadi penceramah dalam pengajian tersebut, Zahra sangat keget dan tak percaya bahwa Edward telah menjadi lelaki yang dia dambakan. Zahra tak percaya bahwa ia telah merubah kehidupan lelaki yang berbeda keyakinan mejadi sama dan bersatu. Sekarang tak ada lagi perbedaan antara mereka dan mereka telah bersatu. Dan itulah akhir dalam cerita Zahra dengan lelaki yang berbeda dengannya.




Dian Sista Ade Prahesti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar