CINTA
DAN KEPERCAYAAN
Pagi
yang sangat cerah untuk memulai sebuah aktifitas manusia, seperti halnya seorang
mahasiswa ekonomi, yaitu Zahra. Dia seorang
wanita yang cantik, sholeha dan sangat pandai. Banyak lelaki yang terpikat
dengan kecantikan dan kepandaiannya tersebut. Kesibukan Zahra dalam dunia
pendidikan dan religiusnya, tak terfikirkan olehnya tentang rasa saling
tertarik terhadap lain jenis dan tak pernah tau cinta itu apa. Suatu ketika
zahra memdapatkan tugas untuk melaksanakan sebuah observasi di negeri tetangga yaitu Malaysia selama 3
bulan lamanya, dan disinilah awal cerita zahra yang akan mengubah hidupnya.
Siang
hari yang cukup cerah d negeri tetangga, Dia sedang duduk di sebuah taman
dibelakang kampusnya, tiba-tiba terdengar suara wanita dan lelaki dari jauh
memanggil nama Zahra datang menghampirinya
“Hai,
Zahra, awak ne kemana saja lah saya cari-cari tak jumpa pula“ sapa si Nafiza
teman Zahra dari negeri tetangga dengan suara yang agak keras
“Maaf
Nafiza, saya sedang baca buku dari tadi ditaman sebab di kelas bising sekali, so
tak tau lah jika Naf, mencari saya” jawab zahra
“Ow,
tak apelah, o ya kenalkanlah this is my friend, Edward namanya“ jawab Nafiza
sambil memperkenalkan seorang lelaki kepada Zahra
“Hey,
perkenalkan nama saya Edward“ sambil menjulurkan tangan kepada Zahra tapi Zahra
hanya terdiam tak membalas.
“Maaf,
salam kenal“ jawab Zahra sambil menundukkan kepalanya.
“Ye,
maaf lah Edward, Zahra tak menerima jabat tangan mu itu, sebab awak bukan muhrim,
dia seorang wanita yang soleha, so tak sembaranganlah awak bisa mendekati
zahra. Hehe, iya kan Zahra“ jawab Nafiza
Sontak
saja edward menjawab kepada zahra “Ow, tak apalah saya mengerti dengan hal itu,
maaf kan saya”.
Nafiza
tersenyum manis kepada Edward kemudian Edward pun membalas senyuman tersebut.
Beberapa
hari kemudian Zahra sedang mengikuti sebuah acara seminar yang di adakan oleh
universitas tersebut dan tiba-tiba dia jatuh terpeleset sebab waktu itu sedang
turun hujan jadi lantai agaklah licin, semua buku yang di bawanya terjatuh dan
berserakan di lantai, tiba-tiba Edward membantunya merapikan buku yang
berserakan d lantai tersebut. “Kau tak apa-apa Zahra? Apa awak masih ingat dengan
saya?” tanya Edward, “Saya tidak apa-apa terima kasih telah membantu saya dan
ya saya masih ingat dengan kamu, kamu teman Nafiza kan? “ jawab Zahra.
Mendengar
suara Zahra yang khas Edward merasa sangat senang dan kagum melihatnya, ya
karena Edward telah merasa jatuh hati dengannya pada waktu pertama kali mereka
bertemu, Edward sering kali bertanya dengan nafiza teman Zahra bagaimana watak
dan kepribadian Zahra, Edward diam-diam mencari seluk beluk kehidupan Zahra,
namun Edward tak yakin apakah Zahra mempunyai perasaan yang sama denganya sebab
Zahra tidak memikirkan hal yang berhubungan dengan percintaan.
Suatu
hari Edward mendengar suara yang amat merdu dengan lafal bahasa arab seperti
orang yang sedang berdoa, dia penasaran dengan sumber suara tersebut dan ia pun
mengikuti suara tersebut hingga berakhir di sebuah ruangan kecil di salah satu
kampusnya, dan ternyata adalah suara Zahra yang sedang membaca Al-qur’an, lalu
Edward pun mendekati Zahra, “Apa yang sedang awak baca?” tanya Edward
penasaran, sontak Zahra kaget mendengar suara Edward yang tiba-tiba saja ada di
sampingnya. “Saya sedang membaca al-qur’an, apa kamu tak tau itu al-quran??? “
tanya Zahra dengan heran.
”Maaf
saya tidak tau, sebab saya seorang kristian dan hanya pernah memdengar jika Al-quran adalah kitab orang muslim tapi
saya tak tau apa isi kandungan Al-qur’an tersebut.
Zahra
lalu minta maaf kepada Edward. Edward tertawa mendengar perkataan Zahra, dalam
hati Edward semakin kagum dengan Zahra dan semakin yakin jika dirinya telah
jatuh hati dengan Zahra
Suatu
ketika tiba-tiba Edward datang ke tempat kos Zahra dan ia mengungkapkan isi
hatinya kepada Zahra jika ia telah jatuh hati pada Zahra , namun dia merasa takut
jika Zahra akan menolaknya mentah mentah sebab ia tau diri jika mereka
sangatlah berbeda, dan mereka tak mungkin bersatu karena mereka berbeda agama,
mendengar ungkapan isi hati Edward, Zahra merasa kaget dan bingung untuk
menjawab apa dia mempunyai perasaan yang sama kepada Edward. ”Saya tau awak
pasti tak mempunyai perasaan yang sama terhadap diri saya,namun berikan saya 1
kesempatan bahwa saya benar-benar jatuh hati dan ingin menjalin hubungan yang
serius dengan awak, saya akan turuti apa yg awak pinta kat saya” jawab edward
dan langsung pamit pergi.
Setelah
Edward pergi, Zahra masih memikirkan kata-kata Edward tadi, zahra tidak menyangka
jika Edward menyimpan perasaan yang sama kepadanya, ia merasa bimbang sebab tak
boleh jatuh cinta kepada lelaki yang tidak seagama, Edward adalah seorang
lelaki yg baik, tampan, cerdas dan bertanggung jawab dalam mnghadapi suatu
masalah, namun dia masih bimbang dengan perasaannya dan memang merasa jatuh hati namun disisi lain berbeda keyakinan
dan tak mungkin bersatu, gumamnya dalam hati
Sudah
3 hari Zahra tak terlihat di kampus, Edward sangat khawatir apa karena
mengungkapkan isi hatinya ke Zahra, atau zahra marah denagan saya sebab saya sudah
mengungkapkan perasaannya ke Zahra ? tanyanya dalam hati. Tiba-tiba Nafiza
mengagetkan Edward dalam lamunannya dan memberikan secarik surat. Surat
tersebut berisikan jika Zahra telah pulang ke Indonesia, sebab masa tugas observasinya
telah habis dan mengungkapkan jika ia memiliki peraasaan yang sama, namun Zahra tak
bisa menerimanya sebab Zahra ingin mempunyai calon yang seiman dan memberikan kesempatan
kepada edward untuk pindah agama. Lalu Edward hanya terdiam dan berpikir,
bagaimana caranya supaya bisa bersatu, apa mungkin harus pindah agama Islam?
gumam Edward. Tiba-tiba Nafiza sontak menjawab”Jika kamu mencintai dia kejarlah
sampai dapat namun janganlah mengubah kepercayan demi dia, sebab itu akan sia-sia,
dan akan merubah kepercayaan jika kepercayaan itu lebih baik dari sebelumnya”
Sudah
beberapa tahun berlalu Zahra telah kembali ke Indonesia. Namun dia masih saja
terbayang dengan kata-kata Edward dan
dia selalu melakukan sholat istikhoroh supaya diberikan petunjuk oleh Allah.
Suatu ketika Zahra mengunjungi sebuah pengajian yang diadakan oleh kampusnya, ia
datang sudah agak terlambat sebab itu ia memperoleh tempat duduk dibelakang dan
ia pun tidak terlalu jelas melihat siapa lelaki yang menjadi penceramah
pengajian tersebut. Tak lama kemudian pengajian itu selesai. Tiba-tiba Zahra
melihat lelaki yang ia kenal. Zahra agaknya mendekati lelaki tersebut dengan
penuh rasa penasaran, setelah ia merasa dekat dengan lelaki tersebut sontak
saja ia kaget melihat lelaki tersebut dan ternyata ia adalah Edward yang telah
berpindah kepercayan menjadi seorang muslim. Edward kini mengganti namanya
menjadi Muhammad Nur Zhasman, dan Edward pulalah yang menjadi penceramah dalam
pengajian tersebut, Zahra sangat keget dan tak percaya bahwa Edward telah
menjadi lelaki yang dia dambakan. Zahra tak percaya bahwa ia telah merubah
kehidupan lelaki yang berbeda keyakinan mejadi sama dan bersatu. Sekarang tak
ada lagi perbedaan antara mereka dan mereka telah bersatu. Dan itulah akhir dalam
cerita Zahra dengan lelaki yang berbeda dengannya.
Dian
Sista Ade Prahesti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar